Tentukan sendiri jalan cerita selanjutnya.

Tentukan sendiri jalan cerita selanjutnya.
SET YOURSELF THE NEXT STORY

Ads : 1 USD forever

This blog started to be written January 11, 2015.
Advertise your products and services here.
With 1 USD then your ad posted in the article forever.
1 USD per article forever.

A story with tens of thousands of articles.

A story with tens of thousands of articles.
life and death, blessing and cursing, from the main character in the hands of readers.

Campaign : Support my book "The ultimate guide to get life on earth as in heaven."

Campaign : Support my book "The ultimate guide to get life on earth as in heaven."
Campaign started October 17, 2015 (45 days)

Your contribution to my campaign

Tuesday, May 5, 2020

Lahir di Kandang Ayam, Hermanto Kini Jadi Crazy Rich Punya 75 Perusahaan

Lahir di Kandang Ayam, Hermanto Kini Jadi Crazy Rich Punya 75 Perusahaan

Selasa, 5 Mei 2020 08:40Reporter : Addina Zulfa Fa'izah
Merdeka.com - Hermanto Tanoko merupakan salah satu pengusaha sukses di Indonesia. Putra bungsu dari pendiri PT. Avia Avian, Soetikno Tanoko ini telah memiliki banyak perusahaan.
Tak heran jika dirinya disebut sebagai 'Crazy Rich'. Meski demikian, siapa sangka dulunya Hermanto lahir di kandang ayam.
Penasaran dengan kisah Hermanto Tanoko? Berikut ulasan lengkapnya.
1 dari 10 halaman

Lahir di Kandang Ayam

kisah sukses hermanto tanoko
©2020 Merdeka.com/Youtube SuccesBefore30
Melalui unggahan channel Youtube 'SuccessBefore30', seorang pengusaha sukses bernama Hermanto menceritakan tentang kisah hidupnya. Dibalik kesuksesannya, siapa sangka Hermanto dulu ternyata lahir di kandang ayam.
"Kalau saya ini dilahirkan di Bulan September 1962 di Kota Malang. Mama saya anaknya lima, saya yang paling kecil nomor lima, dan semuanya dilahirkan oleh Bidan. Karena memang ekonomi kami ini memang waktu itu susah sekali, karena papa kena PP10 tahun 60, jadi harus tinggal di emper-emper, gunung kawi, vihara, sampai akhirnya bisa menyewa rumah yang semestinya bukan rumah tapi bekas kandang ayam dengan ukuran 1,5x9 m, saya begitu lahir sudah tinggal di kandang ayam," ujar Hermanto menceritakan.
2 dari 10 halaman

Ayah dan Ibu Pekerja Keras

kisah sukses hermanto tanoko
©2020 Merdeka.com/Youtube SuccesBefore30
Hermanto menceritakan bahwa ayah dan ibunya merupakan sosok pekerja keras. 

"Jadi papa ini memang pekerja keras, mama juga. Jadi papa itu setiap harinya harus naik sepeda ke Singosari untuk membeli hasil bumi dari para petani, terus dijual di kota Malang. Sedangkan mama menjual pakaian-pakaian bekas di depan rumah. Tapi memang papa mama itu benar-benar pekerja keras, " kata Hermanto.
3 dari 10 halaman

Paham Investasi Sejak Kecil

kisah sukses hermanto tanoko
©2020 Merdeka.com/Youtube SuccesBefore30
Hermanto telah paham investasi sejak dirinya masih berusia lima tahun. Hal ini bermula ketika dirinya mendapat angpau Imlek.

"Papa tahun 62 itu buka toko cat, kalau mama tahun 64 buka toko kelontong. Waktu saya usia lima tahun, berarti tahun 67. Kalau Imlek tradisi Chinese itu kan selalu kasih angpau ke anak-anak. Uang angpau setelah terkumpul, mama papa menawarkan suatu investasi ke saya. You mau enggak invest tepung terigu, harganya mau naik. Oke mau. Bapak catat," ujar Hermanto.

"Terus besoknya sudah tanya lagi, tepung terigunya sudah naik belum sudah terjual belum. Oh sudah. Ditawari lagi saya, mau beli biskuit enggak, ini yang mau naik biskuit. Oh mau. Beli biskuit, terus akhirnya dibelikan minyak goreng dan seterusnya. Jadi akhirnya saya di toko itu jadi senang, jadi tau, jual roti itu untungnya cuma sekian. Jual telur asin sekian, jual minyak goreng sekian, jadi benar-benar nilai uang itu enggak gampang nyari gitu," lanjutnya.

"Mama itu dengan anak luar biasa baiknya, enggak pernah melarang, suruh semua dimakan. Saya setelah tau, mana bisa, setelah makan roti disuruh makan yang lain, untungnya belum dapet ini. Belum jualan sepuluh kali lipat mana bisa makan. Jadi kami ini benar-benar mengerti nilai uang mulai usia dini," pungkasnya.
4 dari 10 halaman

Belajar Dagang dari Kelereng

kisah sukses hermanto tanoko
©2020 Merdeka.com/Youtube SuccesBefore30
Hermanto pun melanjutkan ceritanya. Ia mengatakan bahwa dirinya telah belajar dagang dari kelereng. 

"Jadi enggak bisa jajan karena tau harganya sangat mahal. Sampai kalau mainan kelereng itu, saya itu latihannya pakai batu yang bunder. Dari situ saya latihan dari jarak satu meter dua meter sampai titis bagus gitu," kata Hermanto.

"Jadi waktu di sekolah banyak orang yang bawa kelereng, kalau dia mulai kalah, saya mainin. Akhirnya saya mainin menang banyak, saya dikasih cuan. Dari keuntungan yang didapat itu, akhirnya saya main sendiri, sampai menangnya berkaleng-kaleng," lanjutnya.

"Akhirnya yang bagus-bagus saya cuci, saya jual di toko mama. Jadi saya jual di toko mama itu waktu 6 tahun 7 tahun," imbuhnya.
5 dari 10 halaman

Pernah Jaga Toko Cat

kisah sukses hermanto tanoko
©2020 Merdeka.com/Youtube SuccesBefore30
Di usia delapan, sembilan tahun, Hermanto telah diajak oleh sang ayah untuk membantu menjaga toko catnya. Dari sana lah ia belajar tentang product knowledge.

"Di usia, delapan, sembilan, sepuluh itu papa mulai ngajak saya ke toko catnya. Jadi saya disuruh melayani di toko-toko cat itu melayani pembeli, mulai dari satu ons dua ons. Terus dari sana saya tau, kalau papa saya ini merk tertentu itu jadi agen tunggal," ungkap Hermanto.

"Kalau agen tunggal itu keuntungannya jauh lebih besar. Dari sana saya jadi belajar product knowledge, produk yang keuntungannya besar itu apa keunggulannya dibanding dengan brand-brand yang sudah laku. Ternyata keunggulannya banyak, mulai dari harganya lebih murah, lebih kental, lebih cepat kering, lebih kilap," lanjutnya.

"Dari pengetahuan itu, kalau ada pembeli brand yang sudah terkenal saya switch ke brand yang papa jadi agen tunggal. Hampir sembilan puluh persen menurut," pungkasnya.
6 dari 10 halaman

Pernah Jaga Apotek

Tak hanya menjaga toko cat, Hermanto juga diberi kepercayaan oleh sang ayah untuk mengurus apotek yang dimiliki keluarganya di usia empat belas tahun.

"Di usia empat belas tahun, saya dipanggil oleh papa saya, ditanya di sebelah rumah ini ada apotek mau dijual. Kalau enggak dibeli, sayang, karena ini persis di sebelah rumah. Tapi kalau dibeli, siapa yang jaga. Tanya nya ke saya," ujar Hermanto menceritakan.

"Saya aja yang jaga. Habis pulang sekolah saya langsung jaga. Oh bisa ya? bisa pak. Dibeli sungguhan suruh saya yang jaga. Jadi saya pulang sekolah, makan, jam satu sampai jam sembilan saya itu di apotek. Jadi saya belajarnya itu, jam empat jam lima pagi. Jadi saya bangunnya itu pagi. Buat PR, belajar, sampai sekarang saya bangunnya jam empat jam lima pagi. Jadi udah kebiasaan sampai saat ini saya bangun pagi," lanjutnya.

"Saya di awal itu sudah punya mimpi, apotek saya harus yang paling ramai di Kota Malang. Jadi dari mimpi itu akhirnya saya mempelajari. Apotek yang sudah ramai itu harga jualnya berapa persen ngambil keuntungan, terus ngelayanin pelanggan itu berapa lama, itu saya selidiki semua," terangnya.

"Akhirnya, saya membuat satu inisiatif, bagaimana agar harga saya paling murah yaitu dengan membeli kontan, dapat potongan lima belas dua puluh persen, saya berikan ke pembeli. Terus karena obat saya enggak lengkap, kelemahan itu saya jadikan kekuatan, dengan saya kasih ongkos kirim, ongkos ambil resep gratis. Jadi saya cuma sedia sepeda motor, saya ngelayani costumer, enggak perlu nunggu obat. Saya kirimkan," pungkasnya.
7 dari 10 halaman

Bangun Pabrik Cat Avian

kisah sukses hermanto tanoko
©2020 Merdeka.com/Youtube SuccesBefore30
Hermanto merupakan putra bungsu dari pendiri PT. Avia Avian, Soetikno Tanoko. Ia menceritakan ketika sang ayah dan dirinya membangun dan mengelola pabrik cat Avian.

"Waktu saya setelah menikah, usia 19 tahun. Saya diminta papa untuk membantu papa di Pabrik Cat Avian. Jadi papa ini merintis Avian di tanggal 1 November 1978, waktu devaluasi rupiah dengan delapan belas karyawan," kata Hermanto.

"Saya di akhir tahun 1982, diminta membantu, itu awal ketemu papa saya tanya, Avian ini visi ke depannya apa. Cita-cita papa ini apa. Papa saya nangkep, papa ingin Avian jadi nomor satu di Indonesia. Padahal pabriknya ini masih pabrik yang belum besar, pagar aja enggak ada. Drum-drum itu ditaruh di sawah," lanjutnya. 

"Jadi saya semangat sekali. Saya ngomong, pa kalau gitu kita harus memperkuat, kualitas yang bagus kita pertahankan terus. Nah itu Avian itu tumbuh terus, double digit setiap tahunnya. Jadi Avian ini sekarang sudah 40 tahun. 40 tahun itu ibarat kalau setiap 10 tahun itu naiknya puluhan kali, dawarsa kedua puluh naiknya ratusan, dasawarsa ketiga puluh naiknya ribuan, dasawarsa keempat puluh ini sudah puluhan ribu kali," imbuhnya.

"Sehingga merk cat nasional yang dari home industri bisa bersaing dengan perusahaan-perusahaan global dan kami menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia. Di dunia, pada ulang tahun yang ke-40 ini, kami bersyukur menjadi nomor 40," pungkasnya.
8 dari 10 halaman

Sukses Lewati Krisis 98

Di usia 35 tahun, Hermanto telah sukses melewati krisis tahun 98. Kesuksesan Hermanto melewati krisis, berkat pesan dari sang ayah yang ia ingat dan laksanakan dengan baik.

"Jadi waktu krisis 97 98, kami seluruh perusahaan, seluruh anak cucu punya usaha, itu tidak ada yang sampai hutang tidak bisa dibayar, baik hutang ke bank atau hutang ke principle. Semuanya kami bisa bayar karena papa sudah mengajarkan. Jangan berhutang dalam mata uang asing karena kita berjualan di Indonesia, mendapatkan uang Indonesia," terangnya.

Jadi kalau hutang mata uang asing, ada devaluasi atau perubahan, terus nilainya berlipat kali, you enggak bisa bayar, bagaimana tanggung jawabmu kepada bank atau pihak ketiga tadi. Jangan tamak, tapi you harus punya perasaan perhitungan tanggung jawab. Ini yang menyelamatkan kami dari setiap krisis apapun," imbuhnya.
9 dari 10 halaman

Sosok Hermanto Tanoko

hermanto tanoko
©2019 Youtube Rico Huang dan Instagram Hermanto Tanoko
Hermanto Tanoko merupakan salah satu pengusaha sukses di Indonesia. Dengan meniru jalan karier sang ayah, Hermanto mulai merintis usahanya di berbagai bidang.

Bahkan, saat ini Tan Corp Group telah memiliki lebih dari 15 ribu karyawan. Tan Corp Gorup terdiri 8 subholding, 77 perusahaan, dan lebih dari 300 brand.

Perusahaan tersebut telah berhasil mendapat ratusan penghargaan baik nasional maupun internasional.
10 dari 10 halaman

Bangun Hotel Rp1,8 Triliun

Melalui wawancara Rico Huang dengan Hermanto pada (26/6/2019) lalu, Hermanto membenarkan bahwa hotel Vasa Luxury Hotel yang ia bangun dengan Tung Desem Waringin menghabiskan biaya Rp1,8 triliun.

"Iya, kalau dihitung secara keseluruhan dengan office towernya ya," terang Hermanto.

Hotel mewah tersebut menjadi hotel kebanggaan Hermanto dan juga masyarakat Surabaya. Bahkan, Vasa Luxury Hotel menjadi tempat menginap favorit Presiden Jokowi jika berkunjung ke Surabaya.
[add]

Monday, April 13, 2020

seri si pisau terbang Li (Xiao Li Fei Dao)

seri si pisau terbang Li (Xiao Li Fei Dao)



Xiao Li Fei Dao (si pisau terbang Li) adalah novel karya karangan Gu Long (khu lung). bercerita tentang tokoh utama bernama Li Xunhuan . kemudian berlanjut dengan tokoh utama lain tetapi masih terkait ceritanya.

Mana sajakah yang termasuk seri si pisau terbang Li?



di negara Tiongkok dan juga secara internasional, yang termasuk seri si pisau terbang Li ada 5, yaitu:
  1. Si Pisau Terbang Li / Duoqing Jianke Wuqing Jian (多情劍客無情劍多情剑客无情剑Duōqíng Jiànkè Wúqíng JiànDo1-cing4 Gim3-haak3 Mou4-cing4 Gim3; 'Sentimental Swordsman, Ruthless Sword') - tokoh utama Li Xunhuan
  2. Rahasia Mokau Kaucu / Biancheng Langzi (邊城浪子边城浪子Biānchéng LàngzǐBin1-sing4 Long4-zi2; 'Bordertown Prodigal/Wanderer')  - tokoh utama Ye Kai (murid Li Xunhuan) dan Fu Hongxue
  3. Peristiwa Bulu Merak / Jiuyue Yingfei (九月鷹飛九月鹰飞Jǐuyuè YīngfēiGau2-jyut6 Jing1-fei1; 'Eagle Soaring in the Ninth Month') - tokoh utama Ye Kai
  4. Peristiwa Merah Salju / Tianya Mingyue Dao (天涯‧明月‧刀Tiānyá Míngyuè DāoTin1-ngaai4 Ming4-jyut6 Dou1; 'Horizon, Bright Moon, Saber')  - tokoh utama Fu Hongxue
  5. Si Pisau Terbang Pulang / Feidao Youjian Feidao (飛刀,又見飛刀飞刀,又见飞刀Fēidāo, Yòujiàn FēidāoFei1-dou1, Jau6-gin3 Fei1-dou1; 'Flying Dagger, Flying Dagger Appears Again') - tokoh utama Li Huai (cucu Li Xunhuan)

sedangkan di negara Indonesia , yang dianggap termasuk seri si pisau terbang Li ada 7, yaitu :
  1. Pendekar Baja - (tokoh utama Shen Lang)
  2. Si Pisau Terbang Li 
  3. Rahasia Mokau Kaucu 
  4. Peristiwa Bulu Merak
  5. Peristiwa Merah Salju
  6. Kisah Balik Merah Salju
  7. Si Pisau Terbang Pulang
orang tiongkok (ataupun secara internasional) tidak memasukkan Pendekar Baja (wulin waishi) kedalam seri pisau terbang Li karena isi cerita-nya terlalu sedikit keterkaitannya dengan cerita si pisau terbang Li (kemungkinan A Fei adalah keturunan Shen Lang, biarpun tidak dibilang secara terang-terangan).
sedangkan Kisah Balik Merah Salju (邊城刀聲) itu bukanlah benar-benar karangan Gu Long, melainkan karangan Ding Qing dengan bantuan Gu Long dibuat khusus untuk drama adaptasi film, sebelum akhirnya di novelkan.  Meskipun plot ceritanya ada petunjuk dari Gu Long, kisah sebenarnya adalah kreasi independen Ding, alias Ding Qing adalah ghostwriter (penulis bayangan) nya Gu Long, dan tidak boleh dimasukkan dalam seri ini. kejadian cerita sekitar 10 tahun dari cerita border town prodigal, Ye kai dan Fu Hongxue kembali ke border town.

novel lain yang terkait dengan seri si pisau terbang ini adalah  Golok Bulan Sabit - Full Moon, Crescent Saber - 圓月彎刀 (ini juga terkait dan merupakan sekuel dari Pedang tuan muda ketiga sword of the third young master, sehingga sword of the third young master juga secara tidak langsung terkait dengan seri pisau terbang) . 2/3 isi cerita ditulis oleh Sima Ziyan . ini adalah karangan terakhir Gu Long. Xiǎo xiāng (lóng tiānxiāng) adalah keturunan dari Long Xiaoyun, yang adalah orang penting di kehidupan Li Xunhuan . kemudian juga novel Jade Tiger (白玉老虎) ada keturunan dari si pak tua Sun yang muncul di cerita si pisau terbang Li, kemudian juga novel Righteous Blood Cleansing the Silver Spear (碧血洗銀槍) juga terkait karena ada keturunan Shen Lang (hokkien: sim long).


------------------------

Adaptasi TV/film 

adaptasi yang berdasarkan seri si pisau terbang Li ,adalah (cuma disebut yang terakhir):

  • Legend of Dagger Li  - tahun 1999 - berdasarkan novel Si Pisau Terbang Li 
  • Border Town Prodigal 2016 , berdasarkan novel Rahasia Mokau Kaucu
    versi ini agak melenceng dari novel, dibuat ada cerita cinta antara Fu Hongxue dan Ma Fangling yang menjadi fokus cerita utama.
  • Eagle Soaring in the Ninth Month 1986 , berdasarkan novel Peristiwa Bulu Merak
    cerita yang hampir ga pernah diadaptasi, terakhir kali tahun 1986.
  • The Magic Blade  2012 , berdasarkan novel Peristiwa Merah Salju + Bulu Merak
    versi campur-campur atau gado-gado, menggabungkan cerita Peristiwa Bulu Merak dan Peristiwa Merah Salju, terus ada penambahan cerita dan perubahan cerita.
  • the legend of flying dagger 2017 , berdasarkan novel Si Pisau Terbang Pulang 
    tentang cucu Li Xunhuan, yaitu Li Huai.

Monday, April 6, 2020

Ini Kisahku Mendampingi Dan Menyaksikan Betapa Indahnya Kematian Papaku

Jemima Mulyandari
Beberapa tahun terakhir ini kondisi fisik Papaku memang terus merosot dimakan usia. Keluar masuk rumah sakit dijalani Papa dengan penuh ketabahan. Setabah itu jugalah Mama, adik dan iparku merawat Papa. Aku yang tinggal beda pulau dengan Papa jadi terus berdoa pada Tuhan minta diberi kesempatan untuk bisa menjenguk dan merawat Papa.
Puji Tuhan doaku dikabulkan Tuhan. Dua kali berturut-turut Papa masuk rumah sakit menjelang akhir hidupnya, Tuhan memberiku kesempatan untuk bisa menjaga dan melayani Papa di rumah sakit. Aku bahkan menggenggam tangan Papa sampai tarikan nafas terakhirnya.
Lewat pengalaman mendampingi proses Papa menerima kematiannya inilah, aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri betapa indahnya kematian Papa. Supaya artikel ini tidak terlalu panjang, saya akan fokuskan di pengalaman terakhir Papa masuk rumah sakit sampai akhirnya dinyatakan meninggal pada hari Sabtu, 4 April 2020 pukul 02.52 WIB.
Rabu malam, 1 April 2020, Papa kami bawa ke IGD karena tubuhnya makin lemah. Hari-hari di rumah sakit kami lalui dengan banyak cerita. Beberapa kali Papa bertanya padaku tentang kedua orang tuanya yang sudah lama meninggal. Papa juga menanyakan kapan kakak laki-lakinya datang. Padahal kakak Papa ini sudah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu.
Saat itu aku jadi berpikir jika sampai Papa meninggal, aku tahu Papa akan berkumpul dengan keluarga yang sangat dicintainya. Ada damai sejahtera dalam hatiku saat aku menjawab semua pertanyaan Papa tadi, sekalipun di sisi lain aku juga tak mau kehilangan Papa.
Keadaan jadi mencekam saat Papa berkata ada 2 orang masuk ke kamar kami di rumah sakit. Padahal saat itu tidak ada siapa-siapa selain kami berdua di dalam kamar.
Sekalipun wajah Papa tenang sama sekali tidak ada ketakutan. Jujur saya yang panik mendengar Papa bicara tentang orang asing yang tidak dikenal dan tak bisa saya lihat dengan mata jasmani saya. Saat itu saya langsung mengajak Papa berdoa mengusir segala roh-roh jahat yang mau mengganggu kami. Saya juga mengajak Papa ngobrol tentang hal-hal lain yang menggembirakan sambil saya putarkan lagu-lagu rohani dari HP saya.
Jumat malam, 3 April 2020 pukul 20.00 WIB adalah hari yang takkan pernah aku lupakan seumur hidupku. Pada jam itu aku melihat cara Papa menarik napas beda dari biasanya. Detak jantung Papa stabil seperti biasa. Tapi tarikan napas Papa lebih kuat dari sebelumnya.
Aku langsung bertanya apa Papa sesak napas??? Dengan tenang Papa menjawab tidak.
Ini jelas aneh. Tidak sesak napas tapi cara bernapasnya beda dari biasanya. Papa memang tidak tersengal-sengal, tapi kenapa beda cara tarik napasnya???
Daripada kepikiran, aku langsung keluar kamar menemui suster jaga. Dua suster langsung ke kamar untuk mengecek keadaan Papa. Langkah pertama cek gula darah. Puji Tuhan gula darah Papa normal. Aku lega.
Lanjut cek tekanan darah. Tekanan darah Papa cuma 80/50. Anehnya Papa mengaku tidak pusing, tidak sesak napas. Semua baik-baik saja. Papa bahkan bisa menjawab semua pertanyaan suster dengan jelas.
Dua suster tadi memastikan kondisi Papa sudah dicek semuanya. Mereka akhirnya memutuskan memasangi alat pada tubuh Papa yang bisa merekam dan menunjukkan hasil tekanan darah, denyut nadi dan kadar oksigen dalam tubuh Papa.
Dari alat itu ketahuan jika tekanan darah Papa naik turun tidak stabil. Dalam waktu singkat, tekanan darah 80/50 tadi berubah menjadi 128/60 lalu terus turun bermain di angka 90 per sekian dan 100 per sekian.
Suster langsung menghubungi dokter Papa (dokter Gatot) agar bisa segera datang ke rumah sakit memeriksa Papa. Kebetulan dokter Gatot memang sudah sampai di parkiran rumah sakit. Beliau langsung mengecek kondisi Papa. Perintah dokter Gatot cuma 1. “Naikkan oksigen dari 4 ke 6!”
Jujur saat itu aku mulai resah melihat kondisi Papa. Aku teringat pada film ER (Emergency Room) yang dulu sering aku tonton di TV. Dalam kepanikan, adik perempuanku menghubungi bapak dan ibu pendeta yang menggembalakan orang tuaku selama ini.
Tak lama kemudian bapak dan ibu pendeta datang menjenguk dan mendoakan Papa. Saat itu Papa masih sadar tapi sudah mulai susah bicara. “Yesus” dan “Haleluya” adalah dua kata yang bisa diucapkan Papa mengikuti doa bapak pendeta.
Saat bapak dan ibu pendeta sudah pulang keluar kamar, Papa baru bisa mengucapkan, “Kamsia Pak Wi.” Aku masih sempat mengajak Papa becanda. Aku bilang, “Yaaahh. Papa telat ngomongnya. Pak Wi dan Bu Wi barusan sudah pulang. Tapi ngga apa. Mereka tahu Papa sangat berterima kasih sudah dikunjungi dan didoakan.
Papa menjawab lirih, “Iya.”
Setelah moment itu waktu terasa berjalan sangat lambat bagiku. Papa yang sudah berhari-hari lemas cuma memejamkan mata, kali itu bangun buka mata melihat ke seluruh penjuru kamar. Aku tahu mata Papa sedang melihat sesuatu sekalipun aku tidak bisa mengetahui sesuatu itu apa.
Anehnya kali itu aku tidak takut seperti yang sebelumnya. Mataku ikut menjelajah ke setiap sudut kamar mengikuti arah mata Papa. Semua baik-baik saja. Tak ada siapa-siapa di situ selain kami berdua. Hatiku juga damai tak ada perasaan aneh yang bagaimana.
Akhirnya aku bertanya, “Papa memangnya melihat apa??? Dengan santai Papa menjawab di luar ada orang baris melangkah berderap. Prok prok prok kata Papa.
Saat itu pikiranku langsung teringat pada sebuah lagu sekolah minggu yang sebaris liriknya berbunyi “Jika nanti orang suci berbaris masuk ke surga.”
Aku spontan berkata pada Papa, “Waaahh… Papa dijemput pasukan ya?” Papa menjawab, “Iya. Dua orang masuk sini.”
Sambil menangis aku berkata pada Papa, “Papa, kalau bukan dijemput Yesus jangan mau ya. Kalau Yesus yang jemput, Papa mau ikut silakan. Kalau Papa memang sudah cape mau beristirahat, Mama dan anak-anak sudah rela asal dijemput Yesus.
Papa menjawab, “Iya.”
Saat itu hatiku campur aduk rasanya. Di satu sisi aku melihat wajah Papa begitu tenang penuh kedamaian sekalipun tarikan napasnya makin lama makin keras. Napas Papa tidak ngos-ngosan, tapi inhale exhalenya kuat membuat kita yang melihatnya jadi tak tega. Di sisi lainnya aku sadar waktuku bersama Papa sudah tak banyak lagi.
Akupun tidak mengusir dua orang yang kata Papa sudah masuk ke kamar kami. Aku sama sekali tidak dicekam ketakutan seperti sebelumnya. Tak ada bulu kuduk merinding dan lain sebagainya seperti dulu. Yang ada hanyalah suasana damai sekalipun aku sedih siap ngga siap ditinggal Papa.
Aku berusaha menjaga kesadaran Papa tetap ada dengan terus mengajaknya ngobrol. Papa masih bisa bicara berkomunikasi denganku saat itu. Papa masih sempat bertanya jam berapa sekarang??? Jam 12 lebih Pa jawabku.
Aku minta Papa tidur supaya besok pagi bisa segar ketemu Mama yang tiap hari rajin datang menemui Papa di rumah sakit. Saat itu Papa bertanya jam berapa besok Mama datang??? Aku menjawab pagi-pagi Mama sudah datang. Papa buka mata Mama sudah ada di sini.
Lanjut Papa bertanya mengkhawatirkan keadaan Mama. Aku menjawab Mama aman di rumah bersama Shully (adikku), Lung (iparku) dan Oti (suamiku). Aku juga memberitahu pada Papa jika malam ini Mama tidur bersama Michael (anak sulungku cucu pertama Papa).
Dengan lega Papa menjawab, “O, ya wes.”
Lanjut Papa menyuruhku pulang. Lagi-lagi aku menangis. Aku menjawab, “Yemmy (nama kecilku) ngga akan pulang. Yemmy bobo di sini jaga Papa.”
Papa menjawab, “Terima kasih ya.”
Butuh kekuatan ekstra bagiku menuliskan kata demi kata di artikel kali ini. Bagaikan film yang diputar, kenangan malam itu terulang lagi dalam ingatanku.
Lanjut aku berkata pada Papa, “Ngga seharusnya Papa berterima kasih ke Yemmy. Yemmy yang seharusnya berterima kasih ke Papa. Terima kasih sudah membesarkan, mendidik sampai menikahkan Yemmy. Terima kasih banyak buat semua pengorbanan Papa selama ini. Yemmy sayang Papa.”
Aku mengucapkan itu lalu mencium kening Papa. Kening Papa terasa dingin. Sangat dingin. Air mataku makin tak bisa dibendung saat mendengar Papa menjawab, “Iya. Sama-sama.”
Setelah itu aku membaluri Papa dari ujung kaki sampai leher dengan minyak kayu putih agar Papa merasa hangat. Saat aku bertanya, “Enak ya bau minyak putih?”
Papa cuma mengangguk tak bersuara.
Sejak itu Papa sudah tak bersuara lagi saat aku ajak ngobrol. Papa cuma mengangguk atau menggeleng merespon obrolanku. Aku bertanya pada Papa apakah sesak napas??? Papa menggeleng. Aku juga bertanya apa Papa ada merasa sakit atau tidak nyaman??? Lagi-lagi Papa menggeleng.
Aku sangat terharu melihat ketabahan Papa menjalani saat-saat terakhir di hidupnya. Tak ada omelen. Tak ada keluh kesah. Tak ada persungutan apalagi penyangkalan. Sama sekali tak ada.
Papa fokus menjaga helaan napasnya agar terus bisa teratur satu persatu. Papa benar-benar luar biasa. Aku melihat Papa begitu sabar menerima, menghadapi dan menjalani takdir hidupnya.
Aku tahu waktunya sudah tak lama. Aku terus bisikkan di telinga Papa, “Panggil Yesus Pa. Sebut Yesus. Yesus. Yesus. Haleluya. Yesus. Yesus. Aku terus mengucapkan kalimat itu berulang-ulang. Hingga satu kali kesempatan, aku mendengar Papa berbicara dengan kuat dan jelas. “Yesus! Haleluya!”
Aku girang sekali saat itu melihat perkembangan Papa yang tadinya cuma menggeleng dan mengangguk jadi bisa bicara lagi. Aku lanjut berkata, “Papa aman bersama Yesus.”
Papa menjawab, “Iya. Aman.”
Rupanya itulah kata-kata terakhir yang bisa Papa ucapkan. Setelah itu angka oksigen di monitor Papa drop berbunyi menandakan ada sesuatu yang tak beres sedang terjadi. Aku langsung terbang keluar menghubungi suster jaga.
Detail kehebohan dan kepanikannya tak mampu saya tuliskan di sini. Tapi saya yakin para pembaca bisa membayangkannya.
Kalimat “code blue” terdengar di sepanjang lorong rumah sakit kamar Papa, mengiringi derap langkah dokter dan para petugas IGD yang berlari ke kamar untuk menolong Papa dan berusaha mengembalikan tekanan darah Papa yang terus turun dari angka 90 per sekian, 80 per sekian, 60 per sekian sampai 40 per sekian.
Tiba-tiba aku teringat pada Mamaku dan adik perempuanku yang sedang menunggu cemas di rumah. Penjaga di rumah sakit memang cuma diijinkan 1 orang saja mengingat keadaan yang tak memungkinkan akibat virus corona yang masih menyerang Indonesia sampai sekarang.
Sambil menangis aku memohon pada dokter IGD agar mama dan adikku diijinkan ke rumah sakit menemani detik-detik terakhir Papa. Puji Tuhan dokter IGD mengijinkan. Aku langsung menghubungi adikku agar secepatnya datang ke rumah sakit bersama Mama. Papa kritis tapi mata Papa masih ada tanda kehidupan.
Sambil menunggu Mama dan adikku datang, aku berdoa pada Tuhan agar Papa jangan diambil dulu, supaya Mama dan adikku punya kesempatan mengucapkan kata-kata perpisahan.
Aku nyanyikan lagu "El Shaddai" di telinga Papaku. Cuma lagu itu yang ada di otakku saat itu.
“Tak usah ku takut, Allah menjagaku. Tak usah ku bimbang, Yesus pliharaku. Tak usah ku susah, Roh Kudus hiburku. Tak usah ku cemas, dia memberkati. El Shaddai. El Shaddai. Allah Maha Kuasa. Dia besar. Dia besar. El Shadaai mulia. El Shaddai. El Shaddai. Allah Maha Kuasa. BerkatNya melimpah. El Shaddai.”
Dua kali berturut-turut aku menyanyikan lagu itu persis di telinga kanan Papa. Lanjut aku berkata, “Yemmy masih ingat waktu Papa menyanyikan lagu ini saat memimpin puji-pujian di gereja. Papa ingat???
Kelopak mata Papa yang melek mengerjap menjawab pertanyanku. Aku tahu Papa masih sadar antara hidup dan mati. Papa mengerti dan merespon ucapanku. Papa benar-benar tangguh.
Sambil menangis dan berteriak aku menggocang bahu Papa memohon agar Papa bertahan dulu. Tunggu Mama Pa. Mama sudah di jalan. Tunggu Mama ya.
Tiba-tiba tekanan darah Papa dari 40 per sekian naik ke 53 per sekian. Saat itu Mama, adik dan iparku datang. Sambil dokter IGD terus melakukan CPR, Mama, adik dan iparku bergantian membisikkan ucapan terima kasih, permohonan maaf dan kata-kata perpisahan di telinga Papaku. Adikku juga menelpon bapak pendeta yang terus mendoakan Papa untuk melapangkan jalan Papa.
Iparku juga menelpon kakak dan adik laki-lakiku yang sedang dalam perjalanan dari Surabaya ke rumah sakit. Begitu juga suamiku yang menjaga anak-anak dan keponakan yang masih kecil di rumah. Lewat telpon yang didekatkan ke telinga Papa, kakaku, adik laki-lakiku dan suamiku mengucapkan terima kasih, mohon ampun dan kalimat perpisahan pada Papa.
Mata Papa masih ada kehidupan. Denyut nadi dan tekanan darah juga masih ada. Papa segera dilarikan ke IGD untuk penanganan lebih lanjut.
Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri betapa lapangnya jalan Papaku menjemput kematiannya. Di telinga yang satu Papa mendengar kata-kata cinta dari keluarga yang sangat menyayangi Papa. Di telinga satunya lagi Papa mendengar doa penyahutan yang dinaikkan bapak pendeta yang menggembalakan hidup rohani Papa selama ini.
Saat itu aku duduk bersimpuh di lantai IGD menggenggam tangan Papa. Di tarikan napas terakhirnya, tangan Papa bergerak pelan di tanganku. Sudah selesai. Aku tahu Papa sudah pergi meninggalkan dunia ini.
Wajah Papa tersenyum. Aku tahu Papa sudah bahagia beristirahat dengan tenang dalam pelukan Tuhan Yesus Kristus Juruselamat Kekasih Jiwa.
Akhirnya aku bisa mengambil kesimpulan. Firman Tuhan memang ya dan amin. Tuhan tak pernah menipu umatNYA. Dengan mata kepalaku sendiri aku melihat penyertaan Tuhan nyata atas hidup Papa. Papa begitu tenang tak ada ketakutan sama sekali saat berjalan di lembah bayang maut menjemput kematian tubuh jasmaninya.
Sebagai penutup aku jadi teringat pada sebuah Mazmur Daud yang mengatakan:
“TUHAN adalah gembalaku , takkan kekurangan aku . Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.”
Ayat ini benar-benar nyata dialami Papaku di depan mataku. Aku beruntung bisa menyaksikan semuanya sejak awal sampai akhir. Suatu kehormatan yang tak ternilai bagiku bisa menggenggam tangan Papa sampai di penghujung hidupnya.
Selamat jalan Papa. Aku sayang Papa. Aku bangga jadi anaknya Papa. Selamat beristirahat dengan tenang. We love you. Terima kasih Yesus untuk semua kasih dan penyertaanmu. Amin. Terpujilah Tuhan.
Silakan klik link berikut untuk bisa mendapatkan artikel-artikel saya yang lainnya.
https://seword.com/author/jemi/
Thank you so much guys. Peace on earth as in Heaven. Amen.
Jemima Mulyandari
WRITTEN BY

Jemima Mulyandari 

If you work really hard and you are kind, amazing things will happen.
Sumber: https://seword.com/urusan-hati/ini-kisahku-mendampingi-dan-menyaksikan-betapa-sCMiaYlIsi

Related Posts

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...