Tentukan sendiri jalan cerita selanjutnya.

Tentukan sendiri jalan cerita selanjutnya.

Ads : 1 USD forever

This blog started to be written January 11, 2015.
Advertise your products and services here.
With 1 USD then your ad posted in the article forever.
1 USD per article forever.

A story with tens of thousands of articles.

A story with tens of thousands of articles.
life and death, blessing and cursing, from the main character in the hands of readers.

Campaign : Support my book "The ultimate guide to get life on earth as in heaven."

Campaign : Support my book "The ultimate guide to get life on earth as in heaven."
Campaign started October 17, 2015 (45 days)

Your contribution to my campaign

Tuesday, August 15, 2017

How to Craft an Effective Social Media Strategy

How to Craft an Effective Social Media Strategy

As social platforms have grown in popularity, so too has the importance of building an effective social media strategy. With one click of a button, companies have direct lines of communication to millions of consumers and potential consumers. While it’s now functionally easier than ever to reach people from all corners of the globe, that doesn’t mean it’s easy to connect with those people; it’s an important difference that many fail to grasp.
Just because Twitter, Facebook, LinkedIn, and Instagram have a combined audience of nearly 2.85 billion users, that doesn’t mean all of them are eager to hear your message. In fact, most of them don’t even know your brand. This is why it’s essential to come up with a social media plan of attack, and commit to executing it well.
To have a successful social media strategy, it’s essential to plan meticulously, and stick to your message, even if it doesn’t seem to take hold at first. One of the worst mistakes you can make is to spend countless hours coming up with a plan, and abandon it within a few days of launching it.
To help with the process, below are four steps you can take to build a sound social media strategy.

1. Create a social media marketing plan beforeyou start

Want to increase your sales right now?

We'll tell you how to boost your sales with 21 awesome tips!

social media strategy
This may sound obvious, but far too often, people jump into social media with the thought “I’ll see what works and what doesn’t as I go.”
Don’t do that.
Craft a detailed strategy, and put forth your full effort. The first step is to create aSMART goals list.
  • Specific
  • Measurable
  • Attainable
  • Relevant
  • Time-bound
Creating a list like this will make it easy to track your progress, and allow you to easily see whether or not you need to alter your approach.
For example, if your chosen platform is on Twitter, a SMART goal could be to “increase our followers by five percent by the end of Q2.” In 11 words, you’ve communicated a specific goal, one that is measurable, attainable, relevant, and time-bound. A SMART goals list doesn’t need to be an in-depth report, it just needs to convey the objective in a short sentence or two.

2. Choose the right platform

This is one of the most overlooked aspects of crafting an effective social media strategy. Given the sheer number of users on each platform, people don’t spend as much time as they should researching where their customer base is. The general line of thought is if there are 300+ million people on Twitter, then they’re bound to get some engagement from their target audience. While that’s not inherently wrong, it’s not the right approach.
The first step is to go back to your SMART goals, and examine exactly what you want to accomplish. Understand who you want to target, and what type of engagement you want to have with your target audience. Once you’ve answered those questions, you can utilize various search functions to determine what platform to embrace.

3. Create a visual identity, and stick to it

One of the easiest ways to confuse your user base is to have a number of different brand identities. Consumers need to be able to easily recognize your brand, even if your company’s name is absent from the image. Take Dropbox, for example.
social media strategy social media strategy
“Although the illustrations are simple, it’s the consistent use of this hand-drawn style that makes Dropbox’s visual branding brilliant. Playful and bright, it lends a human touch to an otherwise cold software. It makes Dropbox seem more personal, user-friendly and approachable compared to competitors.”
While you might not need to create SMART goals for a visual identity, there needs to be a similar process in place. Whether that’s storyboarding, content brainstorming, or your own unique methods, that’s fine–there simply needs to be something in place to develop a plan that can be carried out.

4. Follow the Social Media Rule of Thirds

This is important to follow in order to create a steady stream of incoming followers, and prevent those you’ve already captured from bolting. While the goal of any business is ultimately to make more money and drive revenue, that doesn’t mean you should only be posting content directly related to your brand.
  • 1/3 of your social content promotes your business, converts readers, and generates profit.
  • 1/3 of your social content should surface and share ideas and stories from thought leaders in your industry or like-minded business.
  • 1/3 of your social content should be based on personal interaction and build your personal brand.
This strategy accomplishes a couple things. Firstly, by sharing content other than your own, you’re signaling that your social account isn’t just about inundating your followers with your own content. Just like in normal social relations, people generally don’t like interacting with others who can only talk about themselves; and the same is true with these platforms.
If all you promote is your own content, users aren’t going to be driven to your profile, and they won’t have a desire to interact with you. “To become a trusted advisor,” social accounts need to post “educational materials, [and] then drop in something on your company.”

Using these guidelines won’t guarantee your success, as it’s ultimately up to you to carry through with them, but they’ll undoubtedly get you off the ground. By creating SMART goals, conducting effective research on which social platforms to use, creating a unified visual identity, and following the social media rule of thirds, you’ll be able to connect and engage with your target audience.

Matt Goldman

Matt Goldman is a Content Marketer/Social Media Strategist for Tenfold. His writing has focused on social selling, marketing, as well as gamification.

Saturday, August 5, 2017

Inilah Tokoh-tokoh Tionghoa dalam Revolusi Kemerdekaan Indonesia, Share...!!!

Tokoh-tokoh Tionghoa dalam BPUPKI

Infomenia.net -Dalam beberapa tulisan sebelumnya, telah dipaparkan sejumlah tokoh atau nama dari etnis Tionghoa dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tulisan ini menyorot peran masyarakat Tionghoa, terutama tokoh-tokohnya, dalam revolusi kemerdekaan Indonesia (1945-1949). 

Tulisan ini juga membahas terbentuknya pemerintah Republik Indonesia (RI) serta kiprah para tokoh Tionghoa di dalam lembaga-lembaga pemerintahan yang baru terbentuk. Juga akan dibicarakan afiliasi dan kecenderungan politik dari para tokoh tersebut serta gagasan-gagasan mereka dalam memajukan masyarakat Indonesia. 

Sebelum masalah-masalah di atas dibahas, terlebih dahulu akan dibicarakan secara singkat perkembangan kesadaran politik di kalangan masyarakat Tionghoa di Jawa dari awal abad 20 sampai dengan masa pendudukan Jepang (1942-1945)

Periode revolusi kemerdekaan merupakan bagian penting dari sejarah Indonesia yang berisikan kisah perjuangan bangsa di berbagai bidang seperti diplomasi, militer, jurnalisme, sastra, kesehatan, perhubungan dan sebagainya. Perjuangan tersebut terutama ditujukan untuk mempertahankan kemerdekaan, yang diproklamasikan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945, dari ancaman kolonialisme yang ingin ditegakkan kembali oleh Belanda. 

Berbagai komponen bangsa turut menyumbangkan tenaga dalam revolusi kemerdekaan, diantaranya adalah masyarakat Tionghoa. Peran serta mereka di dalam tahap awal mula berdirinya negara ini, menunjukkan bahwa orang Tionghoa, seperti juga kelompok masyarakat lainnya, merasa Indonesia adalah tanah air mereka yang kedaulatannya wajib mereka bela.

Tulisan ini akan menyorot peran masyarakat Tionghoa, terutama tokoh-tokohnya, dalam revolusi kemerdekaan Indonesia (1945-1949). Karangan ini juga akan membahas terbentuknya pemerintah Republik Indonesia (RI) serta kiprah para tokoh Tionghoa di dalam lembaga-lembaga pemerintahan yang baru terbentuk. 

Juga akan dibicarakan afiliasi dan kecenderungan politik dari para tokoh tersebut serta gagasan-gagasan mereka dalam memajukan masyarakat Indonesia. Sebelum masalah-masalah di atas dibahas, terlebih dahulu akan dibicarakan secara singkat perkembangan kesadaran politik di kalangan masyarakat Tionghoa di Jawa dari awal abad 20 sampai dengan masa pendudukan Jepang (1942-1945)

Perkembangan Kesadaran Politik Masyarakat Tionghoa

Kesadaran politik di kalangan masyarakat Tionghoa di Jawa mulai tumbuh pada awal abad 20. Pada masa itu paham nasionalisme yang berorientasi ke Tiongkok mulai dianut oleh sebagian orang Tionghoa. Sebagian diantaranya adalah kaum peranakan, memandang dirinya sebagai bagian dari bangsa Tiongkok. 

Sebagai wadah dari aspirasi tersebut, kaum Tionghoa mendirikan berbagai organisasi seperti Tiong Hoa Hwee Koan atau THHK (1900), Siang Hwee (1908), dan Soe Po Sia (1908).Gagasan nasionalisme yang berorientasi ke Tiongkok semakin terartikulasi dengan terbitnya koran Sin Po pada tahun 1910.[4] Selain menganjurkan nasionalisme Tiongkok, dalam masalah kewarganegaraan, para pendukung koran ini beranggapan bahwa orang Tionghoa di Hindia Belanda adalah rakyat Tiongkok dan bukan kawula Belanda.

Meski demikian, tidak semua orang Tionghoa adalah pendukung nasionalisme yang berorientasi ke Tiongkok. Mereka itu terutama adalah kaum peranakan yang mendapat pendidikan Belanda. Pada tahun 1928 kelompok ini mendirikan partai yang diberi nama Chung Hwa Hui (CHH). Para pendukung CHH berpendapat bahwa peranakan Tionghoa adalah kawula Belanda dan harus ikut serta dalam pemerintahan untuk membela kepentingan mereka.

Sikap CHH yang pro kepada Belanda mendapat tanggapan dari kaum peranakan yang berorientasi ke Indonesia. Kelompok ini kemudian membangun organisasi bernama Partai Tionghoa Indonesia (PTI) pada tahun 1932. Pemimpin PTI, Liem Koen Hian, menyerukan agar kaum peranakan Tionghoa yang menganut nasionalisme Tiongkok menukar obyek orientasi mereka ke Indonesia dan bekerja untuk kemerdekaan Indonesia.

Dengan demikian, secara garis besar, sebelum kedatangan Jepang pada tahun 1942, ada tiga golongan utama yang berbeda dalam masyarakat Tionghoa, yaitu mereka yang berorientasi ke Tiongkok, Belanda, dan Indonesia.

Masa pendudukan Jepang berdampak besar terhadap kehidupan masyarakat Tionghoa di Indonesia. Pemerintah pendudukan Jepang menutup seluruh koran yang diterbitkan oleh orang Tionghoa[7] dan melarang orang Tionghoa untuk melakukan kegiatan politik. Sekolah-sekolah berbahasa Belanda juga ditutup dan ini menyebabkan kekuatan kelompok Chung Hwa Hui semakin melemah.

Sementara itu, kelompok yang berorientasi ke Tiongkok, terutama Sin Po, beberapa tokohnya ditangkap dan ada yang melarikan diri. Sedangkan kelompok PTI yang beorientasi nasionalisme Indonesia dibubarkan. Liem Koen Hian sebagai tokoh PTI sempat ditangkap pada masa awal pendudukan sebelum kemudian dibebaskan. Pemerintah pendudukan Jepang menyatukan seluruh organisasi Tionghoa ke dalam satu federasi yang diberi nama Hua Ch’io Tsung Hui (HCTH).[8] Para pemimpin HCTH ditunjuk oleh pemerintah pendudukan Jepang dan bertanggung jawab kepada mereka.

Persiapan Kemerdekaan

Menjelang akhir Perang Dunia II, posisi Jepang di Asia dan Pasifik semakin terdesak. Akibat dari perkembangan situasi ini maka pada bulan Maret 1945 Jepang mendirikan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dalam rangka untuk mendapat dukungan dari rakyat. Di dalam lembaga yang dipimpin oleh Soekarno dan Hatta ini terdapat pula beberapa tokoh Tionghoa.

Diantara para tokoh Tionghoa itu yang paling menonjol adalah Liem Koen Hian dari PTI. Dalam rapat-rapat BPUPKI dia sering mengemukakan pendapatnya yang mendukung secara penuh kemerdekaan Indonesia. Dalam suatu sidang BPUPKI ia mengemukakan bahwa masyarakat Tionghoa di Jawa tidak lagi menganut kebudayaan Tionghoa.[9] Liem menekankan bahwa masyarakat Tionghoa telah lebih menjadi Indonesia daripada Tiongkok.

Meskipun demikian ia mengidentifikasi adanya kebingungan dalam masyarakat Tionghoa tentang posisi mereka karena adanya perubahan situasi, baik nasional maupun internasional. Dalam pandangan Liem, dalam Republik Indonesia yang akan dibentuk nanti, semua orang Tionghoa mesti diakui sebagai warga negara Indonesia.

Tokoh Tionghoa kedua yang duduk di dalam BPUPKI adalah Oei Tjong Hauw yang berasal dari CHH. 

Tentang masalah kewarganegaraan, Oei menganjurkan agar pemerintah Indonesia yang akan datang menyatakan semua orang Tionghoa di Indonesia sebagai warga negara Tiongkok. Ia mengemukakan bahwa setelah pendudukan Jepang maka Undang-Undang Kekaulaan Belanda tidak berlaku lagi.

Maka banyak orang Tionghoa peranakan yang dengan sendirinya menjadi warga negara Tiongkok. Meskipun demikian Oei berjanji bahwa ia bersama orang-orang Tionghoa lainnya akan bekerja semaksimal mungkin untuk membantu rakyat Indonesia membentuk negara merdeka. Komitmen ini dilatarbelakangi oleh dua hal, yaitu pertama: Tiongkok juga sedang berjuang untuk mencapai kemerdekaannya dan kedua: orang Tionghoa berhutang budi kepada bangsa dan tanah air Indonesia yang telah menyediakan mata pencaharian bagi mereka.

Tokoh-tokoh Tionghoa berikutnya yang menjadi anggota BPUPKI adalah mereka yang pada masa kolonial Hindia Belanda tidak tergabung dalam tiga aliran politik utama. Tokoh yang pertama adalah Oey Tiang Tjoei. Ia menganut pandangan bahwa meskipun kaum peranakan memiliki darah campuran, namun hal itu tidak membuat mereka menjadi orang Indonesia. 

Menurut Oey, dalam Undang-Undang Dasar Republik Indonesia yang akan datang kewarganegaraan Tionghoa sebaiknya diberi pertimbangan yang adil. Secara tidak langsung ia ingin mengatakan bahwa orang Tionghoa sebaiknya dinyatakan sebagai warga negara Tiongkok. 

Oey tidak melihat adanya pertentangan antara menjadi warga negara Tiongkok dan menjadi anggota masyarakat Indonesia. Hal ini karena dalam pandangan Oey, orang Jepang, Indonesia, dan Tionghoa adalah bangsa Asia dan karena itu perlu untuk bekerja sama dalam mewujudkan Asia Raya.

Selain mereka bertiga, masih ada orang Tionghoa di dalam BPUPKI, yakni Tan Eng Hoa dan Yap Tjwan Bing. Tidak banyak keterangan yang diperoleh mengenai kedua tokoh ini. Apa yang diketahui tentang Tan Eng Hoa adalah bahwa dia seorang sarjana hukum. Sedangkan Yap[10] adalah seorang apoteker lulusan Belanda namun memiliki hubungan yang erat dengan kaum nasionalis Indonesia. 

Setelah berakhirnya Perang Dunia II, dia bergabung dengan Partai Nasional Indonesia (PNI). Berdasarkan fakta-fakta ini dapat diperkirakan bahwa ia memiliki pandangan yang tidak terlalu berbeda dengan Liem Koen Hian.

Pada tanggal 1 Juni 1945, dalam akhir sidang I BPUPKI, Soekarno menyampaikan pokok-pokok pikirannya tentang Pancasila yang kelak akan menjadi dasar negara. Rancangan Undang-Undang Dasar Republik dengan batas wilayah bekas teritori Hindia Belanda berhasil ditetapkan pada tanggal 22 Juni 1945. 

BPUPKI mengakhiri tugasnya dengan merancang konstitusi pertama Indonesia yang menghendaki sebuah republik kesatuan dengan jabatan kepresidenan yang kuat. Sebagai gantinya dibentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Peresmian pembentukan panitia ini dilaksanakan pada tanggal 7 Agustus 1945, sesuai dengan keputusan Jendral Besar Terauchi, Panglima Tentara Umum Selatan, yang membawahi semua tentara Jepang di Asia Tenggara.

Anggota PPKI kebanyakan diambil dari bekas anggota BPUPKI. Dari keseluruhan anggota PPKI, 12 orang adalah wakil dari Jawa, 3 wakil dari Sumatra, 2 dari Sulawesi, 1 dari Kalimantan, Sunda Kecil, Maluku, dan wakil masyarakat Tionghoa. Sebagai wakil masyarakat Tionghoa, sekaligus golongan minoritas lainnya (Arab dan Indo), di dalam PPKI adalah Yap Tjwan Bing.

Pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang telah menyerah tanpa syarat dan pada tanggal 17 Agustus 1945 atas desakan para pemuda, kemerdekaan Republik Indonesia diproklamasikan.

Komite Nasional Indonesia Pusat

Segera setelah proklamasi kemerdekaan dikumandangkan, pemerintah pusat dibentuk di Jakarta pada akhir Agustus 1945. Dalam pemerintahan baru tersebut Sukarno diangkat sebagai presiden (1945-1967) dan Hatta ditunjuk sebagai wakil presiden (1945-1956). 

Kepercayaan diberikan kepada kedua tokoh pergerakan tersebut karena para tokoh politik Indonesia pada umumnya meyakini bahwa hanya merekalah yang dapat berurusan dengan pihak Jepang yang pada saat itu secara de facto masih memiliki kekuatan militer yang besar.Karena Pemilihan Umum belum dapat dilaksanakan maka untuk membantu presiden didirikan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP).

Komite-komite nasional yang serupa juga dibentuk di tingkat provinsi dan karesidenan. Para anggota KNIP yang pertama dilantik pada tanggal 29 Agustus 1945. Anggota inti dari KNIP terdiri dari 25 orang. Kebanyakan dari mereka sebelumnya merupakan anggota PPKI yang ditunjuk oleh Jepang. Sebagai tambahan, Presiden Sukarno menunjuk 110 orang sebagai anggota KNIP. Dalam bulan-bulan selanjutnya anggota KNIP diperluas menjadi hampir 200 orang.

Sidang KNIP pertama kali diadakan pada tanggal 16 Oktober 1945 di Jakarta. Berlaku sebagai pimpinan sidang adalah Kasman Singodimedjo. KNIP dan badan pekerjanya sejak dari awal memang telah mengikutsertakan perwakilan dari masyarakat Tionghoa. Ketika KNIP untuk pertama kali disusun, terdapat dua anggota yang mewakili masyarakat Tionghoa, yaitu Liem Koen Hian dan Yap Tjwan Bing.

Perjuangan melalui jalur diplomasi akhirnya mengahasilkan perjanjian Linggarjati yang diselenggarakan pada 22 Oktober sampai 15 November 1946. Di dalam perjanjian tersebut, pihak Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia di Pulau Sumatra dan Jawa. Kedua belah pihak juga menyepakati untuk membentuk Republik Indonesia Serikat (RIS) pada tanggal 1 Januari 1949.

Di dalam RIS akan diikut sertakan RI dan beberapa negara bagian lainnya. Juga disetujui untuk membentuk suatu uni Indonesia-Belanda, yang di dalamnya terdiri dari RIS dan kerajaan Belanda. Uni ini akan secara resmi dipimpin oleh Ratu Belanda.

Agar perjanjian Linggarjati diterima secara resmi oleh Indonesia diperlukan persetujuan dari KNIP. Untuk menjamin diterimanya perjanjian tersebut oleh KNIP, pada tanggal 29 Desember 1946 Sukarno mengeluarkan dekrit yang isinya menambah jumlah anggota KNIP dari 200 menjadi 515 orang. 

Pada awalnya ada penolakan terhadap dekrit ini dari kalangan anggota KNIP. Namun setelah Hatta mengancam bahwa Soekarno dan dirinya akan meletakkan jabatan jika dekrit itu ditolak, akhirnya dekrit tersebut diterima.

Di dalam KNIP ada 7 tokoh Tionghoa yang mewakili masyarakat Tionghoa. Diantara mereka 4 berasal dari Jawa Timur, yaitu Yap Tjwan Bing (Madiun), Oey Hway Kiem (Bondowoso), Tan Boen An (Kediri), dan Siauw Giok Tjhan (Malang). Sedangkan 3 wakil lainnya berasal dari Jakarta, yaitu: Liem Koen Hian, Inyo Beng Goat, dan Tan Po Goan. 

Selain itu masih ada 3 orang Tionghoa yang mewakili partai politik. Mereka adalah Tan Ling Djie dan Oei Gee Hwat yang mewakili Partai Sosialis (PS) dan Lauw Khing Hoo yang mewakili Partai Komunis Indonesia (PKI). Menurut Siauw Giok Tjhan, dari daftar nama tokoh-tokoh Tionghoa yang tergabung di dalam KNIP dapat disimpulkan bahwa mereka adalah orang-orang yang telah lama ikut aktif dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Selain tiga orang terakhir yang secara jelas tergabung ke dalam partai politik, paling tidak ada tiga tokoh Tionghoa lainnya yang menjadi anggota KNIP yang diketahui merupakan simpatisan atau anggota partai politik tertentu. Mereka adalah Yap Tjwan Bing dan Liem Koen Hian yang merupakan pendukung PNI dan Siauw Giok Tjhan yang merupakan pendukung PS. Khusus mengenai Siauw Giok Tjhan, ia diketahui telah masuk ke dalam Partai Sosialis, khususnya ke dalam kelompok Amir Sjarifuddin, pada akhir bulan Desember 1945.

Tokoh-tokoh Tionghoa Pada Masa Revolusi

Dalam masa revolusi kemerdekaan, masyarakat Tionghoa sebagai kelompok minoritas berada dalam kondisi terjepit antara pihak Belanda dan Indonesia. Banyak orang Tionghoa yang berada di wilayah kekuasaan RI menaruh simpati kepada Indonesia.

Namun sebaliknya, orang Tionghoa yang berada di wilayah Belanda, sulit untuk menunjukkan dukungan seperti yang ditunjukkan orang Tionghoa di wilayah kekuasaan RI. Pada akhirnya meskipun di dalam hati mereka mendukung Indonesia namun mereka berusaha bersikap netral, walau ada juga sebagian yang terang-terangan bersikap pro-Belanda.

Sementara di daerah yang tidak dikuasai oleh RI maupun Belanda, banyak orang Tionghoa yang menjadi korban tindak kekerasan yang dilakukan oleh anggota laskar, para pemuda revolusioner, maupun para penjahat yang berkedok sebagai pejuang. Dengan tuduhan sebagai kaki tangan Belanda, mereka menjadi korban pembunuhan, perampokan, penjarahan, dan pemerkosaan. Peristiwa tindak kekerasan terhadap orang Tionghoa yang mendapat liputan luas antara lain terjadi di Tangerang, Kebumen, dan Malang.

Peristiwa Tangerang mendapat kritikan keras dari koran Sin Po yang telah terbit kembali menyusul berakhirnya pendudukan Jepang. Wartawan terkemuka koran ini yaitu Kwee Kek Beng melakukan lawatan langsung ke Tangerang dan melihat penderitaan orang Tionghoa di sana. Kwee menunjukkan simpati yang mendalam terhadap orang Tionghoa dan beriskap sangat kritis terhadap pihak Indonesia. 

Sikap kritisnya itu bercampur dengan kecenderungannya yang memang anti republik. Apa yang kurang dipertimbangkan oleh Kwee, sebenarnya para pemimpin republik berusaha keras untuk mencegah kerusuhan rasial walaupun upaya tersebut kadang-kadang tidak berhasil.

Para bekas anggota PTI dan tokoh peranakan seperti Siauw Giok Tjhan dan Dr.Tjoa Sek Ien justru mengecam dan menyalahkan Belanda atas terjadinya peristiwa Tangerang. Dengan kata lain mereka tidak mau menyalahkan pihak RI dalam peristiwa tersebut. Sikap tegas dalam memihak RI juga ditunjukkan oleh Liem Koen Hian.

Pada masa revolusi Liem bersama Rahman Tamin, seorang pengusaha pribumi, melakukan kegiatan penyelundupan senjata untuk membantu para pejuang Indonesia.

Pada bulan November 1947, Liem dipercaya oleh pemerintah RI untuk menjadi anggota delegasi dalam perjanjian Renville. Delegasi Indonesia dipimpin oleh Amir Sjarifuddin yang saat itu masih dianggap sebagai orang Partai Sosialis namun di kemudian hari mengaku dirinya telah menjadi komunis sejak lama.

Pada peristiwa pemberontakan PKI di Madiun yang gagal banyak orang komunis yang terbunuh dan tertangkap. Diantara mereka yang tertangkap adalah Amir Sjarifuddin yang pernah menjabat sebagai menteri dalam Kabinet Sjahrir dan kemudian pernah pula menjadi Perdana Menteri.

Ada bekas wakil Tionghoa di dalam KNIP yang terlibat di dalam peristiwa Madiun, yaitu Oey Gee Hwat. Ia berhasil ditangkap oleh TNI dan kemudian dijatuhi hukuman mati. Sebenarnya Oey Gee Hwat berasal dari Partai Sosialis, namun kemungkinan ia telah beralih menjadi anggota PKI sebelum terjadinya peristiwa Madiun.

Dalam masa revolusi ada pula tokoh-tokoh Tionghoa yang menjabat sebagai menteri dalam kabinet pemerintahan republik. Dalam kabinet yang dibentuk oleh Amir Sjarifuddin pada tanggal 3 Juli 1947 Siauw Giok Tjhan ditunjuk sebagai menteri urusan minoritas menggantikan Tan Po Goan. Tan dipandang oleh Amir secara politik lebih dekat kepada Sjahrir.

Ketika itu telah terjadi perpecahan di dalam tubuh Partai Sosialis antara kubu Sjahrir dan kelompok Amir. Pada awalnya Siauw menolak untuk menjadi menteri, tetapi akhirnya ia mau menerimanya setelah didesak oleh Amir dan Tan Ling Djie.[18] Menurut Siauw, alasan lain dari kesediaannya menjadi menteri adalah untuk memenuhi janji pemerintah yang tercantum di dalam Manifesto 1 November 1945,

yaitu menjadikan semua peranakan Tionghoa, Arab, dan Eropa yang lahir di Indonesia sebagai warga negara dan patriot Indonesia dalam waktu sesingkat mungkin.


Masyarakat Tionghoa di Indonesia adalah kelompok masyarakat yang memiliki pandangan heterogen. Aspirasi mereka yang diwakili oleh para tokoh-tokohnya menunjukkan bahwa orang Tionghoa telah memiliki kesadaran politik sejak awal abad ke-20. 

Kebangkitan kaum pergerakan nasional Indonesia terjadi dalam periode yang sama dengan munculnya kesadaran politik di kalangan orang Tionghoa. Meskipun masyarakat Tionghoa memiliki aspirasi politik yang berbeda-beda, namun ada satu ciri kesamaan di antara mereka, yaitu kesadaran sebagai kelompok minoritas yang hidup di tengah suatu bangsa yang sedang membentuk jati dirinya.

Berbagai aktivitas tokoh-tokoh Tionghoa dalam masa revolusi kemerdekaan menunjukkan bahwa golongan Tionghoa bukanlah kelompok yang eksklusif dan terpisah dari bangsa Indonesia. Mesekipun selama masa kolonial dan pendudukan Jepang, orang Tionghoa diperlakukan sebagai golongan masyarakat tersendiri yang berbeda dengan orang pribumi, namun banyak diantara tokoh-tokoh Tionghoa yang menyuarakan aspirasi masyarakatnya yang merasa sebagai bagian integral dari Bangsa Indonesia. 

Hal ini membuktikan bahwa sumbangsih masyarakat Tionghoa dalam masa revolusi tidak kalah pentingnya dari sumbangsih kelompok masyarakat lainnya dalam proses pembentukan negara dan bangsa Indonesia.

Penulis adalah Pengajar Departemen Sejarah FIB-UI dan kandidat Ph.D Sejarah di Universitas Leiden.

Sunday, July 23, 2017

Belajar teknologi dari setan “Mr Benedict”

Belajar teknologi dari setan “Mr Benedict”

Dari kesaksian ini ada dapat belajar bagaimana cara kerja setan dalam bidang teknologi. Mr Benedict dari negara Kamerun, dia mencerikan kesaksian hidupnya dengan menggunakan roh jahat, dia dapat mempengaruhi teman-temannya dalam menggunakan teknologi.
Teknologi telah menjadi suatu aspek penting dalam kehidupan kita, ada bermacam-macam teknologi yang dapat kita gunakan. Namun, perangkat tersebut telah menjadi alat di tangan setan, yang menyebabkan hidup manusia rusak.
Mr Benedict, seorang Kamerun 27 tahun, yang dikuasai oleh roh jahat, dia menggunakan teknologi untuk menghancurkan banyak orang terutama kaum muda dan perempuan, kalau anda salah menggunakan teknologi maka ada dapat menghacurkan masa depan saudara.
Membaca buku misteri kuno
Bagaimana ketika saya mulai belajar..? Waktu itu saya bergabung pada salah satu Seminari di negaraku, ketika  berusia 12 tahun. Suatu hari, saya ke perpustakaan sekolah, ada satu buku yang menarik perhatianku. Buku tersebut menceritakan tentang misteri Mesir Kuno. Lalu saya mulai mempelajari buku tersebut. Dalam buku yang saya baca, mengajari bagaimana seseorang dapat meninggalkan tubuhnya di rumah dan berkeliaran ke tempat yang jauh [dalam roh].

Ketita saya mulai sungguh-sungguh untuk belajar, saya dapat meninggalkan tubuhku dalam bentuk roh, lalu saya dapat mengunjungi tempat-tempat yang saya sukai. Selama didalam dunuia roh, saya akan menemukan diriku di dunia yang aneh di mana segala sesuatu tampak sempurna, orang-orang mengendarai mobil yang aneh, menggunakan gadget canggih seperti komputer dan ponsel dan gadget lainnya. Seperti, katanya, adalah kemajuan di luar angkasa tantang teknologi saya lihat.
Tanpa belajar bisa mengeti
Saya menyadari bahwa ada setan yang mengajariku dan mengatur hidup saya. Ketika saya belajar tentang teknologi dan komputer tanpa pendidikan formal. Suatu waktu saya diundang ke konferensi bisnis sebagai pembicara tamu di mana saya akan membuat mereka suka kepadaku, mereka adalah  pengusaha dengan bermacam-macam profesi, padahal saya belum pernah belajar tentang  pendidikan Bisnis, tetapi hal tersebut saya dapat lakukan karena ada setan yang mengajariku.
"Saya tahu segalanya. Sebuah suara akan memberitahu saya apa yang harus dilakukan dan bagaimana untuk pergi. Bila bepergian di dunia di dunia roh, saya akan melihat hal-hal yang orang tidak bisa biasanya melihat. Saya juga mampu melihat kekuatan setan dari penyihir di tempat kerja seperti menyebabkan kecelakaan.
Suatu kali dalam perjalanan, saya melihat setan membuat memblokir jalan haltersebut supaya dapat menyebabkan kecelakaan kendaraan. Saya bergegas untuk mencegah kecelakaan dengan mencoba untuk memindahkan blokiran, tapi setan menyerangku dengan mendorong tubuhku keras keluar dari jalan.
Saya menjadi penyihir dalam hal komputer. Tidak ada media yang saya tidak bisa menggunakan dan bahkan mengajar penipu bagaimana menggunakan media sosial seperti Facebook untuk menipu orang. Saya memiliki lebih dari 3000 teman di facebook.
Kekuatan yang dapat merayu wanita
Saya memiliki kekuatan untuk membujuk mereka bercinta di telepon. Setiap kali saya berkata-kata di telepon, usahanya akan berhasil, kehidupan perkawinan atau karier. Banyak teman-teman wanitanya yang menjadi korban putus dengan tunangan dan pernikahan mereka yang rusak,  karena mereka akan mengaku tidak akan mencintai orang lain kecuali diri saya. Korbanku berasal dari seluruh dunia.
Salah satu roh yang beroperasi di dalam diriku adalah raja setan teknologi dan pengetahuan yang ia beri nama 'Teigom', yang akan memberikan dia informasi, seringkali mengajar dia dalam mimpi tentang teknologi dan mata pelajaran lain. Saya tahu bahwa istriku, merupakan pengikut setia Emmanuel TV, tidak tahu apa yang terjadi padaku.
Meninggalkan dunia lama
Begitu saya berhenti aktivitas di internet, bisnisku hancur begitu cepat. Semua orang besar yang bekerja denganku mulai  meninggalku. Semua kekayaanku habis. Hal ini membuat saya dan istri memutuskan untuk datang ke The SCOAN pembebasan dan mengijinkan Tuhan untuk membawa terobosan kembali dalam kehidupanku.
Pada hari minggu saya didoakan, lalu saya merasa seperti sedang berjalan di atas air dingin dan seolah-olah ada es di lantai di mana dia berdiri. Setiap kali ia mencoba untuk melihat Wise man Daniel, ia akan melihat energi yang besar cahaya yang lebih kuat dan luar biasa, dari pada  roh-roh jahat yang terdapat dalam tubuhku. Setan yang ada dalam diriku mulai keluar dari tubuhku. Saya mngucap syukur karena hidup saya telah bebaskan dari belenggu setan. Hamba Tuhan Wise man Daniel, hanya sebagai pelayan yang melayani saya dalam ibadah hari minngu. Ketika saya didoakan dengan menggunakan nama diatas segala nama yaitu Tuhan Yesus Kristus, maka setan yang ada dalam tubuh saya keluar dan pergi. Terima kasih Tuhan Yesus yang telah menyembuhkan saya.
Sumber: SCOAN.org
Tidak ada yang salah dengan teknologi, melainkan kesalahan yang terjadi adalah bagaimana kita menggunakan teknologi tersebut. Dengan teknologi kita mudah untuk mendapatkan informasi berupa pelajaran tentang hal-hal yang belum kita mengerti. Pengetahuan kita untuk mencari suatu informasi, apakah informasi tersebut baik atau buruk. Mulai sekarang kita mulai belajar menggunakan suatu teknologi untuk sesuatu yang positif dalam hidup kita.  Amin

:Sumber: https://kesaksian-life.blogspot.co.id/2013/08/belajar-teknologi-dari-setan-mr-benedict.html

Ajaib, Dua Belas Pasang Iga Patah Dapat Bersatu Kembali!

Ajaib, Dua Belas Pasang Iga Patah Dapat Bersatu Kembali!

Kesaksian, kecelakaan yang terjadi didepan mataku dan yang mengalaminya  adalah suamiku. Mobil yang menabrak suamiku dan dia terlindas oleh ban mobil membuat dia patah tulang rusuk. Kejadian ini membuat saya belajar beriman, untuk kesembuhan suamiku. Dari kesaksian ini kita dapat belajar bahwa, ada hal-hal yang Tuhan ijinkan itu terjadi, untuk membuat orang-orang yang kita sayangi itu bertobat. Kadang-kadang hal itu sangat menakutkan bagi kita karena itu antara hidup dan mati. Jawabannya apakah kita mau bersesarah dan percaya atau tidak.

Berjalan dengan suami di trotoar
Pukul 05.15 WIB, 6 November 1999, saya (Yeyen), suami saya (Achin), dan anak bungsu kami (Vincent), hendak ke Gambir. Waktu itu kami berencana bertemu ibu saya di Bandung sebab ia sakit kanker payudara dan akan dibawa ke sinshe. Baru saja kami keluar dari gang, tepatnya di jalan arteri Palmerah, Jakarta Barat, sebuah mobil boks dari arah belakang tiba-tiba menyambar tubuh saya. Saya pun terjatuh ke arah trotoar dan kaki saya terlindas ban mobil.

"Minggir!" saya berteriak mencoba mengingatkan suami saya yang berjalan di depan. Namun karena kurang cepat bergerak, bress...! mobil yang sama menghantam muka suami saya sampai dia terjatuh. Sungguh mengerikan, suami saya jatuh ke arah jalan sehingga badannya masuk di bawah kolong mobil dan, kress...!, ban belakang mobil itu menggilas tubuhnya. Saya melihat dengan mata kepala sendiri ketika ban mobil itu menggilas dadanya dan menyeretnya sejauh kurang lebih 1 meter. Melihat kondisinya yang sangat parah, membuat saya lupa pada sakit saya sendiri. Spontan saya berteriak, "Tuhan Yesus, tolong! Tuhan Yesus, tolong!"

Mobil langsung lari tidak terkejar lagi. Saya hanya bisa jongkok di pinggir jalan sambil memangku suami. Karena lukanya sangat parah, tiba-tiba terlintas di benak saya, jangan-jangan suami saya umurnya tidak akan lama lagi. Karena pemikiran ini, saya seolah dituntun untuk mengatakan padanya demikian, "Kamu harus bertobat, minta ampun." Kata-kata ini saya sampaikan karena saya tahu, meski suami saya sudah Kristen dan dibaptis setelah 14 tahun kami menikah, namun ia jarang sekali ke gereja. Kalau saya ajak ke gereja, ia biasanya marah-marah bahkan mengajak bertengkar. "Pokoknya kamu harus minta ampun," kata saya berulang-ulang.

Tidak lama kemudian, taksi datang. Saya menyuruh anak saya, Vincent, untuk pulang. Di dalam taksi, kami ditemani oleh seorang tetangga. Sepanjang perjalanan, saya hanya bisa bernyanyi dan berdoa. Selain itu, saya terus meminta suami saya untuk bertobat, minta ampun pada Tuhan. Mendengar anjuran saya, ia memberikan respons. Dia berkata lirih, "Tuhan Yesus, ampuni saya." Saya pun menimpali, "Jangan berhenti panggil nama Yesus. Bilang, `Darah Yesus tolong saya!`"

"Darah Yesus, darah Yesus, darah Yesus," kata-kata ini diulang-ulang suami saya hingga kami tiba di RS Pertamina.

Tiba di Rumah Sakit
Tiba di rumah sakit, suami saya langsung masuk ruang Unit Gawat Darurat (UGD). Ia langsung ditangani secara cepat. Kurang lebih 15 menit kemudian, hasilnya sudah dapat diketahui. Benar dugaan saya, kondisi suami saya memang betul-betul parah. Tulang rusuk bagian depan dan belakang, hampir semuanya patah. Dokter mengatakan, "Secara teori, seharusnya sulit untuk bertahan. Tidak ada kesempatan lagi." Kalau sebelumnya pada sepanjang perjalanan saya berdoa dan menyanyi, dan bisa menahan untuk tidak menangis, kini setelah tiba di rumah sakit, lebih-lebih setelah tahu hasil rontgen suami, air mata saya keluar dengan derasnya. "Tuhan, saya tidak kuat," bisik saya sambil menghubungi pendeta saya, Bapak Mulyadi Sulaeman. Pada saat saya mengatakan "tidak kuat", tiba-tiba ada suara yang berbisik, "Tuhan tidak akan mengujimu melebihi kekuatanmu." Saya pun berkata, "Tuhan kuatkan saya. Amin." Ketika selesai mengatakan hal itu, saya langsung mendapatkan kekuatan baru. Saya pun menjadi tegar.

Tidak berapa lama Pak Mulyadi datang. Kepada beliau saya berkata, "Om, tolong dijaga ya, saya sudah tidak tahan." Luka suami saya memang sangat parah. Celana jean yang ia pakai saat terjadi kecelakaan robek. Karenanya, wajar saja kalau kakinya penuh luka dan di pahanya ada luka yang sangat besar. Untuk mengeluarkan darah akibat paru-paru yang mengalami pendarahan, dada suami saya dilobangi. Pak Mulyadi sendiri, mungkin karena melihat harapan untuk hidup begitu kecil, dengan lirih ia menasihati, "Kamu yang sabar saja ya, Yen. Kalau Tuhan memanggil suamimu, kamu harus kuat." Saya mengangguk. Saya bisa memahami ucapannya karena memang menurut kalkulasi manusia, kemungkinan yang terbesar adalah kematian. "Om, saya pasrah. Saya rela suami saya dipanggil sekarang dari pada menunggu nanti tapi belum bertobat. Kalau Tuhan mau panggil, panggillah," demikian jawaban saya penuh kepasrahan.

Kondisi suami kritis
Kondisi suami saya betul-betul kritis. Paru-parunya tidak bisa bekerja dengan baik alias tidak bisa mengembang sehingga pernafasannya diatur oleh mesin. Mulutnya sudah tidak bisa berfungsi. Makanan dimasukkan lewat infus melalui satu lubang hidung, sementara lubang yang satunya untuk nafas. Leher juga dilubangi untuk "CPP", yang dipakai untuk mengontrol suhu tubuh. Melihat keadaannya yang seperti ini, pada hari ketiga dokter kembali berkata, "Ibu berdoa saja. Yang bisa menolong suami Ibu hanya imannya sendiri." Saya tahu kalau dokter sudah berkata begitu berarti harapan secaramedis sudah tidak ada. Karena berdiri di dekat tempat tidur, suami saya dapat mendengar apa yang dikatakan sang dokter. Saya pun kembali menegaskan kata-kata dokter. Kata saya, "Kamu tidak usah khawatir. Seperti dikatakan pak dokter tadi, yang bisa menolong kamu itu hanya imanmu. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Tuhan itu baik, kamu sekarang sebenarnya sedang ditegur Tuhan. Sekarang kamu bersyukur saja. Ampuni orang yang menabrak kamu."

Saya betul-betul heran dengan kata-kata saya sendiri, terutama seruan untuk mengampuni sopir yang telah menabraknya. Saya yakin hikmat itu datangnya dari Roh Kudus. "Sudah jangan ingat-ingat lagi. Kamu jangan marah. Saat kamu mengampuni orang yang menabrak, Tuhan Yesus pasti mengampuni kamu. Ketika dosa kita diampuni, maka apa yang kamu minta pasti Tuhan dengar, sebab penghalang doa kita menurut firman Tuhan tak lain adalah dosa kita," tegas saya lagi. Sejujurnya, antara iman saya dan kenyataan waktu itu bertentangan, tapi saya harus belajar beriman. Di ruang ICU saya tetap berdoa, menyanyi, dan membacakan Alkitab untuk suami saya. Kalau saya sedang menyanyi seluruh ruangan bisa mendengar. Mereka memandangi saya. Mungkin mereka membatin, "Bagaimana mungkin suaminya sakit parah ia masih bisa menyanyi?"

Hari terus bergulir. Setiap kali dokter jaga datang, saya selalu menanyakan kondisi suami saya. Jawaban dokter selalu sama, "Tetap saja, belum juga membaik." Suatu kali, saat saya mengajukan pertanyaan yang sama, jawaban dokter demikian, "Tunggu besok, ya. Kalau besok tidak panas berarti mendingan, tapi kalau panas itu artinya berbahaya." Esoknya suhu badan suami benar-benar panas hingga 40 derajat. Suster di belakang saya saling berbisik, "Wah, tidak mungkin hidup." Tapi suami saya dapat melewati masa kritis itu dan panas itu akhirnya turun. Saya terus berdoa. Mata saya benar-benar hanya tertuju pada Tuhan Yesus.

Hari keenam, pukul 09.00 WIB, keadaan suami kritis lagi. Suami saya pingsan. Untuk menyadarkannya ia harus ditepuk-tepuk bergantian oleh para suster. Saya segera dipanggil oleh dokter. Katanya, "Keadaan Bapak...." Namun, sebelum dokter itu meneruskan kata-katanya, saya langsung memotongnya, "Entahlah Dok, saya tidak mau mendengarkan apa yang Dokter katakan. Jika Dokter ingin mengatakan sesuatu, katakan saja kepada pendeta saya." Dokter itu diam dan saya segera keluar menelepon pak pendeta. Saat itu saya sendirian. Pekerja gereja yang setiap malam menemani saya pagi itu sudah pulang. Setelah menunggu agak lama, pak pendeta akhirnya datang. Saya tetap di luar karena takut. Ketika pak pendeta masuk ia mendapati pengukur detak jantung suami saya sempat lurus. Namun, 2 jam kemudian bergerak lagi dan kembali pada posisi semula. Kira-kira pukul 11.00 WIB, karena desakan pak pendeta, saya pun mau masuk ke kamar rawat suami saya. "Ko, ko, ko," begitu saya memanggil suami dan ia menyahut. Karena sudah sadar saya tidak takut lagi. Sekali lagi ia selamat.

Cahaya Terang Masuk ke Kamar ICU
Malam hari setelah peristiwa yang menegangkan itu, anak saya yang pertama, Michael, datang bersama 2 orang temannya. Mereka bukan orang Kristen. Kami di tempat itu berenam -- Michael dengan 2 orang temannya, saya, seorang pekerja gereja, dan seorang teman saya. Kira-kira pukul 22.00 WIB kami berdoa bersama di lift. Karena saya ingin menghormati teman Michael yang bukan Kristen, saya bilang, "Kita berdoa dalam hati saja, berdoa menurut kepercayaan masing-masing." Selesai berdoa, teman Michael yang bukan Kristen mengatakan, "Michael, waktu kita berdoa, saya melihat ada cahaya terang sekali masuk ke kamar ICU."

"Ma, Agung bilang, waktu berdoa ia melihat sinar masuk ke kamar ICU," kata Michael sembari menyebut nama temannya.

"Lho, kamu sedang menutup mata, bagaimana bisa lihat?" tanya saya.
"Ya, waktu menutup mata itulah saya melihatnya,"jawab Agung mantap.

"Saat melihat cahaya itu, apa yang kamu rasakan?" pertanyaan ini saya ajukan sebab di kamar ICU memang sering terjadi peristiwa aneh-aneh. Saya khawatir cahaya itu bukan dari Tuhan tapi dari setan.

"Perasaan saya damai," jawab Agung. Mendengar cerita dan jawaban Agung, saya langsung mengimani bahwa Tuhan sedang melawat suami saya. Melihat buahnya saya yakin sinar itu merupakan manifestasi Roh Kudus. Saya percaya, kalau ada lawatan Allah pasti sesuatu akan terjadi. Dari kesaksian Agung itu, iman saya kembali dibangkitkan, saya yakin suami saya pasti sembuh. "Terima kasih Tuhan," ujar saya penuh syukur.

Hari berikutnya, saya bertanya pada dokter ahli paru-paru dan mendapat jawaban menggembirakan, "Sudah ada sedikit perbaikan." "Terima kasih dokter, puji Tuhan!" ujar saya spontan, pokoknya saya terus imani dari hal yang kecil pasti akan terjadi hal yang besar. "Jangan berterima kasih pada saya, berterimakasihlah pada Tuhan," jawab dokter itu. Tadinya saya tidak tahu, ternyata dokter itu memang saudara seiman. Keadaan ini terus membaik. Setelah dirawat di ICU selama 5 minggu, suami saya dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Keadaan di ICU sungguh berkesan. Kehadiran saya paling tidak telah membuat orang-orang yang tegang sedikit merasa terhibur. Saya percaya ketika kita menyembah Tuhan lewat nyanyian, hadirat Allah ada di ruangan itu. Hal inilah yang mungkin membuat suasana di ICU menjadi hidup dan lebih nyaman. Sampai-sampai kalau saya tidak bernyanyi, saudara yang tak seiman pun bahkan sering bilang, "Ayo nyanyi, dong. Kalau kamu tidak nyanyi sepi, lho!" Ada juga yang mengatakan, "Suaramu merdu lho." Wah heran juga saya, sebab seumur-umur baru kali ini suara saya dipuji.

Di ruang perawatan biasa, kesehatan suami saya semakin cepat pulih. Di ruang ini suami hanya dirawat selama 2 minggu dan herannya setelah dirontgen, tulang-tulang rusuknya yang patah dinyatakan telah tersambung kembali! Tanggal 30 Desember 1999, suami saya keluar dari rumah sakit. Waktu pulang suami saya sudah normal. Ia sudah dapat berjalan dan tidak memakai alat bantu apa pun. Ia juga tidak pantang makan. Tanggal 31 Desember 1999, suami saya sudah ke gereja. Akhir 1999, sungguh menjadi saat yang manis bagi keluarga kami, sebab tidak saja pada tahun itu suami saya mengalami mukjizat kesembuhan, tapi kerinduan saya dan anak-anak untuk pergi ke gereja bersama ayahnya sudah dijawab Tuhan. Sumber: sabda.com

Ada hal-hal yang kita tidak inginkan itu terjadi tetapi bagi Tuhan itu yang terbaik. 
Sumber: https://kesaksian-life.blogspot.co.id/2013/10/ajaib-dua-belas-pasang-iga-patah-dapat.html

Pasukan Malaikat Sorga

Pasukan Malaikat Sorga

By: Mary Kathryn Baxter
Ketika Tuhan Yesus menyingkapkan alam maut kepada saya, dapat saya saksikan dengan mata rohani saya bahwa rumah saya di bumi dikawal oleh firman Allah yang ditulis di udara. Tiga pasukan malaikat Tuhan mengawal rumah saya. Ada yang duduk, ada yang sedang bercakap-cakap dengan temannya. Satu pasukan lainnya yang tampak sangat berwibawa dan berkuasa juga tampak mengawal rumah itu. Jadi ada tiga pasukan malaikat yang mengawal.
Kelompok yang ketiga berdiri begitu rapat satu dengan lainnya. Sayap mereka bersentuhan dan wajah mereka menghadap keluar. Malaikat dalam group ini sangat besar perawakannya dan tampak bagai jawara-jawara perang yang gagah perkasa. Mereka memiliki pedang yang tergantung di pinggang. Dan setiap kali sebuah bayangan hitam mencoba mendekati rumah itu, mereka serempak mencabut pedang, bersiap melindungi keluarga saya.
Pedang yang mereka tarik itu sebetulnya adalah firman Allah. Ingat, “pedang Roh” adalah “firman Allah.” (Efesus 6:17). Pedang firman Allah itu ketika ditarik keluar dari sarungnya menyerupai nyala api yang akan menghanguskan musuh. Dan musuh akan hancur lebur dan menjadi debu.
Saya teringat firman Allah di dalam Maleaki 4:3 yang membuat saya kagum. Ingat, ketika Allah mengirimkan firmanNya, maka Petrus yang terbelenggu di dalam penjara dibebaskan oleh malaikat. Baca kisahnya dalam Kisah Para Rasul 12:7-11:
“Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam ruang itu. Malaikat itu menepuk Petrus untuk membangunkannya, katanya: Bangunlah segera! Maka gugurlah rantai itu dari tangan Petrus.
“Lalu kata malaikat itu kepadanya: Ikatlah pinggangmu dan kenakanlah sepatumu! Iapun berbuat demikian. Lalu malaikat itu berkata kepadanya: Kenakanlah jubahmu dan ikutlah aku!
“Lalu ia mengikuti malaikat itu ke luar dan ia tidak tahu, bahwa apa yang dilakukan malaikat itu sungguh-sungguh terjadi, sangkanya ia melihat suatu penglihatan.
“Setelah mereka melalui tempat kawal pertama dan tempat kawal kedua, sampailah mereka ke pintu gerbang besi yang menuju ke kota. Pintu itu terbuka dengan sendirinya bagi mereka. “Sesudah tiba di luar, mereka berjalan sampai ke ujung jalan, dan tiba-tiba malaikat itu meninggalkan dia.
“Dan setelah sadar akan dirinya, Petrus berkata: Sekarang tahulah aku benar-benar bahwa Tuhan telah menyuruh malaikat-Nya dan menyelamatkan aku dari tangan Herodes dan dari segala sesuatu yang diharapkan orang Yahudi.”
Baca juga II Raja-Raja 6:17:
“Lalu berdoalah Elisa: Ya TUHAN: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat. Maka TUHAN membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa.”
Malaikat Dan Firman
Untuk merenungkan tentang peran malaikat Allah di dalam kehidupan manusia, baca ayat-ayat berikut ini:
“Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.” (Matius
“Kemudian TUHAN menyingkapkan mata Bileam; dilihatnyalah Malaikat TUHAN dengan pedang terhunus di tangan-Nya berdiri di jalan, lalu berlututlah ia dan sujud.” (Bilangan 22:31)
“Yakub melanjutkan perjalanannya, lalu bertemulah malaikat Allah dengan dia.” (Kejadian 32:1)
“… dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring.” (Johanes 20:12)
“Kemudian berkatalah seorang malaikat Tuhan kepada Filipus, katanya: ‘Bangunlah dan berangkatlah ke sebelah selatan, menurut jalan yang turun dari Yerusalem ke Gaza.’ Jalan itu jalan yang sunyi.” (Kisah Para Rasul 8:26)
“Karena tadi malam seorang malaikat dari Allah, yaitu dari Allah yang aku sembah sebagai milik-Nya, berdiri di sisiku…” (Kisah Para Rasul 27:23)
Karena itu, saudaraku, sebagai pengikut Yesus kita perlu memahami betul bahwa kita dilindungi secara sangat sempurna. Kita perlu mengerti bahwa Allah telah menyediakan segala sesuatu untuk kita melalui firmanNya yang kudus itu.

Apabila Anda memerlukan pertolongan, datanglah kepadaNya dengan berani. Di sana, di takhta kemurahan Allah, dalam nama Yesus Kristus, kita dapat meminta apa yang kita inginkan. Apabila saudara dan saya membutuhkan bantuanNya, Dia akan selalu menyediakan itu. Dia gemar menolong kita ketika kita memelihara dan menjalankan perintah-perintahNya dan melayani Dia.

Sumber:  Book A Divine Revelation Of Heaven/Wahyu Allah Tentang Sorga
Diterjemakan by Pitan Daslani.

Sumber: https://kesaksian-life.blogspot.co.id/2012/11/pasukan-malaikat-sorga.html

Cerita tentang Seorang Pasukan ISIS "Kesaksian"

Cerita ini mengenai seorang ISIS, ini adalah Kisah Nyata yang terjadi di medang perang. Kesaksian ini menceritakan seorang ISIS yang mau di tangkap tetapi ditolong.. Baca lebih lengkap di bawah ini..?

Ada seorang kelompk Isis yang lagi perang melawang negara Suriah, tidak tahunya dia di tertembak oleh pasukan Siriah, sementara teman-temannya dari kelompok ISIS lari meninggalkan dia. Karena tetara Suriah sudah semakin dekat.

Dia kaget dengan luka yang parah di tubuhnya, ada seorang yang seret dia masuk kedam sebuah rumah. Dalam keadaan sakit dia sadar yang menolong dia adalah orang Kristen. Padahal dia ingat dia telah membunuh keluarga orang itu. Dan dia kaget karena dia benci orang Kristen kenapa saya ditolong orang Kristen. Dia dibawa ketempat tidur.

Dalam Keadaan yang sangat parah dia sempat koma tidak sadarkan diri. Dia mendapat penglihatan, dia dibawa ke sebuah pintu gerban yang sangat besar dan bagus sekali, lalu dia melihat Malaikat, dia bilang..ha.ha. Ajaran yang saya pahami kalau saya jihat pasti masuk surga, saya mendapat 9 malaikat menjadi istri saya di surga. Dan dia jalan dengan bangga begitu sampai di pintu gerban surga, Malaikat bertaka kamu tidak boleh masuk, dia disuruh ke neraka. Dia begitu kaget dan tiba-tiba dia bangun lagi.

Ketika dia bangun dia melihat ada beberapa orang di samping dia, salah satunya adalah seorang hamba Tuhan dari gereja Kristen Koptik yang sedang mendoakan dia. Dia gementar dan menangis sambil berkata, aku pikir dengan membunuh orang kafir, aku pasti masuk surga tetapi aku sendiri melihat aku di tolak. Lalu hamba Tuhan ini berkata kami telah mendoakan kamu dari tadi. Hari itu juga dia mulai menerimah Tuhan Yesus sebagai Jurusemat dia.. Amin

Isa Almasih adalah jalan kebenaran dan Hidup. Setiap kita yang harus datang kepada Dia, Dia akan memberikan Air Kehidupan kepada Anda. Apa yang terjadi kepada seorang pasukan ISIS yang telah membunuh orang percaya tetapi Dia Tuhan yang selalu mengulurkan tangan Dia kepada mereka. Kasih Tuhan tidak sama yang diberikan dunia ini kepada kita. Biar dengan kesaksian ini mengar kita untuk lebih dekat dengan Tuhan. Amin

sumber: https://kesaksian-life.blogspot.co.id/2015/03/cerita-tentang-seorang-pasukan-isis.html

Related Posts

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...